Pages

Selasa, 08 Desember 2015

Menag: Jangan Politisasi Agama


Gorontalo, izzamedia.com

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin  meminta masyarakat tidak mempolitisasi agama untuk kepentingan sepihak, apakah ekonomi, sosial, maupun politik. Lebih dari itu, Menag mengingatkan agar jangan memicu konflik dengan mengatasnamakan agama.

Menurut Menag,  Indonesia dikenal sebagai bangsa yang rukun. Namun demikian, kerukunan itu bukan  datang begitu saja dari langit.  Kerukunan merupakan proses yang terus  berlangsung, diupayakan, dan dijaga  karena realitas Indonesia adalah  bangsa yang majemuk. Demikian dikutip dari laman kemenag.go.id



“Kerukunan antar umat beragama  bukan sesuatu yang hidup di ruang hampa. Kerukunan  selalu dinamis dan tergantung pada  dinamika yang berkembang di sekitarnya. Konflik yang mengataskannamakan agama  semata-mata hanya mengatasnamakan agama. Tidak bisa diterima akal sehat agama dijadikan alat kita bersengketa antar sesama kita,” kata  Menag  saat memberikan sambutan saat membuka Acara Workshop Peningkatan Kerukunan Umat Beragama Se Provinsi Gorontalo, Senin (7/12). 



Menag mengatakan, setiap agama itu menebarkan kasih sayang. Semua agama  menebarkan keselamatan, kedamaian, untuk memanusiakan manusia. Karenanya, jika agama dikatakan sebagai  faktor pemicu sengketa, maka  itu hanya mengatasnamakan agama saja. “Tidak ada agama yang  menjadi sumber sengketa,” tegas Menag. 



Pembukaan Workshop Peningkatan Kerukunan Umat Beragama Se-Provinsi Gorontalo dihadiri Wakil Gubernur Gorontalo Idris Rahim, Rektor IAIN Sultan Amai Gorontalo Kasim Yahiji, Direktur Pembinaan Haji, dan  Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Gorontalo Rusman Lanke.



Menag mengapresiasi masyarakat Gorontalo karena termasuk provinsi yang mampu menjaga dan memelihara kerukunan antar umat beragama. Hal itu menurut Menag tidak terlepas dari kiprah para tokoh agama,  pemimpin majelis agama, pemuka agama, serta peran dari Pemerintah Daerah Provinsi maupun Kabupaten/Kota yang terus bersama dengan FKUB menjaga kerukunan di Gorontalo.



“Atas nama pemerintah, saya mengucapkan terimakasih kepada tokoh agama, ormas keagamaan yang tentu telah berkontribusi  nyata dalam  menjaga ke Indonesiaan kita yang hakekatnya sangat religius,” kata Menag. 



Sehubungan dengan pelaksanaan pemilihan kepala daerah pada 9 Desember mendatang, Menag  berpesan agar setajam apapun persaingan antar kandidat, semangat kerukunan serta persatuan dan kesatuan tetap dikedepankan. Lebih dari itu, jangan menggunakan agama untuk hal-hal yang tidak semestinya.


sumber: nu.or.id

Rabu, 02 Desember 2015

Lewat Keragaman, Indonesia Bisa Kembalikan Wajah Islam yang Tercoreng



izzamedia.com – Ulama dari Amerika Serikat Mohamad Bashar Arafat optimistis jika Indonesia bisa menjadi pembawa pesan ke masyarakat global bahwa Islam adalah agama yang cinta damai dan antikekerasan.
“Saya melihat Indonesia dapat menyampaikan pesan Islam yang damai karena masyarakat majemuk yang mengagumkan yang dimiliki negara ini,” kata Mohamad Bashar Arafat, Selasa (1/12/2015).
Pendiri Civilizations Exchange and Cooperation Foundation (CECF) itu mengatakan, Indonesia perlu maju untuk menunjukkan dan membawa pesan mengenai koeksistensi dan keragaman budaya dan agama yang terjalin dengan harmonis kepada masyarakat dunia.
Dia mengungkapkan bahwa serangan teroris yang menewaskan banyak orang di Paris belum lama ini, yang diklaim oleh kelompok ISIS, telah mencoreng citra Islam secara umum, terutama di negara-negara Barat.
“Setelah serangan di Paris itu, 63 persen warga Amerika setuju dengan pandangan-pandangan negatif tentang Islam. Hal ini berarti ada sesuatu (pandangan) yang salah dengan kita (Muslim) yang harus kita ubah,” ujar dia.
Arafat menekankan bahwa Islam bukan hanya tentang Timur Tengah, dan dunia Arab tidak merepresentasikan Islam secara utuh dan benar bila masyarakat di negara-negara Arab tidak bertindak sesuai dengan Alquran.
Oleh karena itu, dia kembali menekankan bahwa Indonesia dapat menjadi contoh sekaligus pembawa pesan yang menunjukkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam).
Arafat juga mengatakan bahwa CECF akan menandatangani sebuah nota kesepahaman dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah untuk bekerja sama menyuarakan Islam yang damai di masing-masing negara.
“Kami akan menyerukan suara Islam dari NU dan Muhammadiyah di Amerika Serikat, dan sebaliknya kedua organisasi Muslim itu akan menyerukan suara Islam dari Amerika Serikat di Indonesia,” ujar dia.

Manusia Tertua Di Dunia “Entah Bagaimana Kematian Seperti Melupakanku”



izzamedia.com – Manusia tertua di dunia ditemukan di India. Namanya Mahashta Murasi. Akta kelahirannya menyebutkan Ia lahir pada Januari 1835 silam. Artinya, saat ini Murasi berusia 179 tahun.
Seperti dilansir Daily News, Senin (30/12/2015), Murasi telah menghabiskan hampir seluruh hidupnya di pabrik sepatu. Ia baru pensiun di usia 122 tahun.
“Saya telah hidup begitu lama. Cucu-cucu saya bahkan sudah meninggal bertahun-tahun lalu,” jelas Murasi.
Jika apa yang dikatakan laki-laki kelahiran Banglore, India itu benar, maka Ia adalah orang paling tua di dunia. Murasi bisa menyabet banyak rekor dunia versi Guinness World Records.
Kini pemerintah India sedang menelusuri kebenaran usia Mahashta Murasi, berdasarkan serangkaian uji coba.
Namun yang diimpikan Murasi saat ini hanyalah kematian. “Entah bagaimana, kematian seperti melupakanku,” ujarnya.
”Saya sudah kehilangan banyak hal, saya berharap untuk mati saja,” tambahnya.


Menag Ingin Pesantren Optimal Gunakan Internet



Jakarta, izzamedia.com
Menteri Agama RI 2014-2019 Lukman Hakim Saifuddin menginginkan pesantren dan masyarakat pesantren secara luas mengoptimalkan jaringan internet. Dia juga mengharap dengan adanya internet, komunikasi antarpesantren makin kuat.

Demikian salah satu sari obrolan NU Onlinedengan Lukman Hakim Saifuddin melalui pesan langsung jejaring sosial twitter, Selasa malam (2/10) yang dimulai pukul 21.37. NU Online menghubunginya dalam rangka menyerap harapan banyak pihak terkait kerja-kerja Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PBNU lima tahun ke depan.

Saat ditanya mengapa internet, Lukman Hakim yang alumni Pesantren Gontor Ponorogo ini menjawab,"Kita hari ini menghadapi dunia baru. Dan dunia baru itu bernama internet, jaringan komunikasi tanpa batas, dengan segala macam bentuknya, menembus waktu secepat kilat tanpa ada yang dapat menghalang-halangi. Pesantren harus menjadi penduduk internet yang aktif dan positif."

"Saya menginginkan jaringan komunikasi antarpesantren yang saling terkoneksi via internet dan memiliki website khusus sebagai media komunikasi. Ini tugas RMI selaku departemen di PBNU yang membidangi kepesantrenan," terangnya.

Selain internet, Lukman Hakim juga mengharapkan RMI segera memiliki database terkait jenis pesantren, keragaman pesantren, hingga kekhasan pesantren-pesantren yang ada di Indonesia, termasuk di dalamnya bidang keahlian para pengasuh dan ulama pesantren.

"Pesantren ini kekayaan Indonesia yang tidak dimiliki negeri muslim di manapun. Dan di dalam pesantren itu sendiri memiliki khazanah yang berbeda-beda yang semuanya tidak hanya mendukung pengembangan dunia Islam, tapi juga kehidupan berbangsa. Saya kira bangunan database ini juga efektif dengan adanya internet. Begitu juga kerja-kerja penyiarannya," jelasnya.

Terkait kaderasi ulama, Lukman Hakim yang putra seorang kiai yang juga mantan menteri agama era Orde Lama KH Saifuddin Zuhri, mengatakan bahwa majelis-majelis bahtsul masail secara periodik penting terus digelar dengan baik.

 "Bahtsul masail, selain menggodog kader-kader pesantren, sekaligus juga bentuk tanggungjawab atas persoalan keumatan." tulis Lukman pukul 23.11.

Rabithah Maahid Islamiyah NU atau asosiasi pesantren NU lahir 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma’ahid al-Islamiyah yang dibidani oleh KH Achmad Syaichu dan KH Idham Kholid. RMI termasuk organisasi pesantren pertama di Indonesia. 

sumber: nu.or.id

Menpora Ajak Masyarakat Saksikan Puncak Liga Santri Nusantara



Sidoarjo, izzamedia.com
Menpora Imam Nahrawi mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menyaksikan babak semifinal Liga Santri Nusantara (LSN) U-17 yang akan digelar di Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur pada Kamis (3/12). Sementara babak final pada Ahad (6/12).

"Mari saksikan semifinal dan final pertandingan sepak bola Liga Santri Nusantara di Gelora Delta Sidoarjo,” katanya kepada NU Online, Rabu (2/12).

Babak semifinal LSN U-17 nanti akan mempertemukan tim dari Pondok Pesantren (PP) Nurul Islam Jember berhadapan dengan PP Nur Iman Sleman. Sedangkan semifinal kedua mempertemukan tim dari PP Darunnajah Garut melawan PP Al Asyariah Tangerang. 

Keempat tim tersebut merupakan tim terkuat saat ini dari seluruh pondok pesantren yang ada di Tanah Air setelah mengikuti serangkaian pertandingan dari babak penyisihan yang diikuti 192 tim dari 10 Provinsi, hingga babak delapan besar. 

Sebelum pertandingan final LSN edisi perdana ini, akan ada pertandingan persahabatan antara Persebaya Surabaya dan Indonesia All Star untuk memeriahkan acara. Sedangkan, rangkaian final LSN U-17 2015 pada Ahad (6/12) rencananya akan disiarkan secara langsung oleh TVRI mulai pukul 13.00 WIB.

Bagi para juara akan mendapatkan hadiah uang pembinaan senilai Rp100juta dan Piala Menpora. Runner up mendapatkan uang pembinaan senilai Rp 75juta, peringkat ketiga senilai Rp50juta. Panitia juga akan memberikan penghargaan kepada pemain terbaik, top skor dan pelatih terbaik.

Setelah laga final LSN 2015, juga akan digelar acara deklarasi Federasi Olahraga Santri Indonesia (FORSI). Organisasi ini dibentuk sebagai payung dari pendidikan dan pembinaan seluruh cabang olahraga dari kalangan santri. 


sumber: nu.or.id

Madrasah Tertua di Kudus dengan Sederet Prestasi





Sebagai salah satu madrasah tertua di kota Kudus, Jawa Tengah, Madrasah Qudsiyyah memiliki sejarah panjang. Di ‘Kota Kretek’ ini ia tidak serta-merta lahir dan menjadi besar, melainkan mengalami proses jatuh bangun dan lika-liku yang cukup melelahkan. Mengingat posisi strategisnya yang berada di dekat makam Sunan Kudus, Qudsiyyah kini menjelma madrasah yang menyejarah.
Sebelum organisasi Budi Utomo menggelorakan Kebangkitan Nasional pada 1920, Madrasah Qudsiyyah telah berdiri tegak mengembangkan sayap-sayap pendidikan agama yang anti penjajah. Sejak 1917, kegiatan belajar mengajar telah dimulai kendati saat itu belum memiliki nama dan tempat belajar yang pasti.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada 1919 (1337 H), KH Raden Asnawi secara resmi mendirikan Madrasah Qudsiyyah. Sejarah mencatat, Mbah Asnawi, panggilan akrab salah satu pendiri NU ini, adalah keturunan ke XIV Sunan Kudus sekaligus keturunan Syeikh Ahmad Mutamakkin, seorang wali kelahiran Pati yang hidup pada zaman Sultan Agung Hanyokrokusumo.
Karena itu, wajar jika terdapat keselarasan garis perjuangan Mbah Asnawi dengan para leluhurnya baik dalam pola pendidikan maupun dimensi penegakan reputasi agama Islam. Tegasnya, ada benang merah yang bisa diteladani dari KH Raden Asnawi dan Syeikh Ahmad Mutamakkin.
Nama Qudsiyyah, diambil dari kata Quds yang berarti suci sekaligus nama kota tempat kelahiran madrasah tersebut. Maksud penggunaan nama itu agar apa yang diajarkan serta diamalkan di madrasah menjadi benar-benar suci dan murni, tidak dicampuradukkan dengan hal yang tidak baik.
Hingga tahun 1929, Madrasah Qudsiyyah dipimpin langsung KH R Asnawi selaku kepala sekolah didampingi KH Shofwan Durri. Setelah itu, hingga tahun 1935 Qudsiyyah dipimpin Kiai Tamyis lantaran Mbah Asnawi sendiri sibuk di pesantren yang didirikannya sejak 1927, yakni Pesantren Raudlatuth Thalibin, Bendan-Kerjasan-Kudus. Masa menjelang kemerdekaan (1943-1950) disebut-sebut sebagai era kemunduran Qudsiyyah.
Namun, setelah tahun 1950 Madrasah Qudsiyyah kembali bangkit. Itulah salah satu alasan Mbah Asnawi tidak menyebut Qudsiyyah sebagai pesantren karena telah mendirikan pesantren tersebut. “Meski sudah ada pesantren, namun madrasahnya lebih terkenal karena lebih dahulu lahir. Kami para alumni ingin mempertahankan tradisi Qudsiyyah itu,” kata Ketua Ikatan Alumni Qudsiyyah (IKAQ) Dr H Muhammad Ihsan kepada NU Online beberapa waktu lalu.

Santri Berprestasi
Menurut Muhammad Ihsan, Qudsiyyah merupakan lembaga pendidikan Islam yang masih konsisten mempertahankan nilai-nilai salafiyah sekaligus merespon perkembangan masa kini secara proporsional. Baik pada sisi kelembagaan maupun sisi kurikulumnya. Itulah sebabnya, para wali santri bangga mengirimkan anaknya ke Qudsiyyah.
Menurut dosen STAIN Kudus yang juga Wakil PCNU Kudus ini, madrasahnya memiliki segmentasi “pasar” tersendiri. Kendati tanpa promo melalui spanduk, selebaran, atau yang lain, pendaftar di Qudsiyyah pada tiap tahun ajaran baru tetap standar.
Bagi Ihsan, prestasi Qudsiyyah yang masih tetap dan terus bertahan adalah kemampuannya mempertahankan, melestarikan, sekaligus menanamkan nilai-nilai salafiyah kepada santri. “Dalam waktu bersamaan sekaligus membekali santri dengan ilmu-ilmu umum. Ini icon khusus Qudsiyyah,” tegasnya.
“Qudsiyyah ora gumunan lan ora kagetan. Dinamika yang ada selalu kita respon dengan positive thinking. Tetapi sekaligus benar-benar kita pertimbangkan manfaat dan mudaratnya ke depan. Terutama terkait dengan eksistensi Qudsiyyah sebagai lembaga pendidikan yang konsen terhadap pendidikan salafiyahnya,” tandas Ihsan.
Disinggung detail prestasi santri, Ihsan mencontohkan, untuk Karya Tulis Ilmiah, bahtsul kutub, atau pidato bahasa Arab-Inggris, santri Qudsiyyah memiliki prestasi di bidang itu. Baru-baru ini mereka bahkan menjuarai pembuatan film dokumenter tingkat nasional.
Prestasi madrasah Qudsiyyah tak hanya berkutat pada keilmuan salafiyah, prestasi pada Ujian Nasional (UN) pun tak kalah. Torehan prestasi UN Madrasah Tsanawiyyah (MTs) Qudsiyyah Kudus beberapa tahun terakhir bahkan cukup membanggakan. Selain lulus  seratus persen, UN tahun 2011 MTs Qudsiyyah meraih peringkat ke-2 se-Kudus.  Dari 139 SMP dan MTs se-Kudus, baik Negeri maupun Swasta, MTs Qudsiyyah meraih posisi kedua.

Dari empat mata pelajaran UN yang diujikan, MTs Qudsiyyah meraih posisi pertama untuk mapel Bahasa Inggris dan Matematika se-Kudus. Dari sisi nilai, mapel Matematika meraih nilai paling tinggi. Dari 214 siswa, sebanyak 82 anak (38 persen) memperoleh nilai 8.00-8.99, 89 anak (41,59 persen) meraih nilai di atas sembilan, dan tiga anak (1,4 persen) meraih nilai sempurna, yakni 10.00. Untuk Bahasa Inggris, sebanyak 119 siswa (55.6 persen) dari total 214 siswa yang mengikuti ujian mendapatkan nilai 8.00-8.99 dan 70 siswa (32,71 persen) meraih nilai di atas sembilan.
Untuk kegiatan ekstrakurikuler, misalnya, Ambalan KHR Asnawi Madrasah Qudsiyyah Kudus berhasil menorehkan prestasi di Yogyakarta. Dalam Temu Karya Pramuka Penegak IV Jateng-DIY beberapa waktu lalu, tim Pramuka MA Qudsiyyah tersebut sukses meraih juara III. Juara pertama diraih oleh MAN 3 Yogyakarta (putra), dan posisi kedua ditempati MAN 1 Klaten.

Selain satu tropy juara III, tim beranggotakan sembilan orang tersebut sukses menyabet sejumlah piala dalam perkemahan yang digelar di Buper Rama Shinta Klompleks Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Prestasi tersebut disumbangkan melalui seni kaligrafi, pentas seni drama, kreasi masakan, pidato bahasa Jawa, dan Lomba Tulis Karya Ilmiah (LKTI).
Sementara itu, Ketua Umum Mutakhorrijin Qudsiyyah di Semarang (MAQDIS) M Rikza Chamami menyebut Qudsiyyah sebagai madrasah yang unik. Pasalnya, hingga kini masih mempertahankan nilai-nilai salaf. "Hingga hari ini Aliyah Qudsiyyah belum akreditasi. Kalau Tsanawiyah dan Ibtidaiyah malah sudah. Keduanya dapat nilai A," kata Rikza.
Hal ini terjadi lantaran KH Sya'roni Ahmadi selaku pembina yayasan memberi arahan agar Qudsiyyah tetap seperti dulu, tidak mengikuti pemerintah dalam kebijakan internal sebagaimana adanya akreditasi dan lain-lain. Hal tersebut ditempuh demi kehati-hatian semata.
Ditanya tentang organisasi MAQDIS, Rikza menyebut itu merupakan buah karya Prof Abdurrahman Mas'ud PhD (alumnus Qudsiyyah 1980) ketika menjadi Direktur Program Pascasarjana IAIN Walisongo Semarang.

Dikonfirmasi terpisah, Abdurrahman Mas’ud yang kini menjabat Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama memberi testimoni bahwa Madrasah Qudsiyyah telah melahirkan dai-dai panggung yang dicintai masyarakat. Sebut saja Almarhum KH Mukhlisin, KH Subur, KH Kustur.
Menurut doktor jebolan Universitas California AS ini, pengasuh Qudsiyyah merupakan para kiai yang sakti seperti KH Sya’roni Ahmadi, salah satu Mustasyar PBNU, yang ceramahnya sangat digandrungi berbagai kalangan, baik kaum intelektual maupun masyarakat awam. Beberapa guru utama antara lain Kiai Yahya Arief dan Kiai Ma’ruf Irsyad. Keunikan lain di Qudsiyyah adalah adanya pelajaran Falak yang sangat mengesankan.
Saat Presiden KH Abdurrahman Wahid berkunjung ke Kudus, KH Sya’roni Ahmadi melontarkanjoke kepada Gus Dur, bahwa Qudsiyyah juga melahirkan “Abdurrahman Wahid”, tapi jadi dua. “Satu, Abdurrahman (Mas’ud) yang sedang di Amerika saat ini. Kedua, Wahid (Nusron) yang saat ini ada di sini,” tutur Abdurrahman Mas’ud menirukan Mbah Sya’roni.

Sholawat Asnawiyah
Madrasah Qudsiyyah mewarisi satu karya legendaris, yakni Sholawat Asnawiyah. Sholawat gubahan sang pendiri, KH Raden Asnawi, ini tergolong unik dan menarik. Pasalnya, dalam liriknya menggambarkan kecintaan dan nasionalisme yang tinggi bagi republik ini. Dalam teks sholawat tersebut, Mbah Asnawi berharap Indonesia selalu aman, damai, dan masyarakatnya sejahtera, sehingga menjadi negeri yang baldatun thoyyibatun warabbun ghafur.
Qudsiyyah berupaya terus melestarikan ajaran-ajaran sang pendiri. Salah satu yang terus digencarkan adalah memopulerkan sholawat tersebut. Selain di ranah kesenian melalui Grup Rebana Al-Mubarok Qudsiyyah yang selalu menyenandungkan sholawat tersebut, Qudsiyyah juga berupaya mengenalkan sholawat kebangsaan ini di kancah nasional. Salah satunya melalui pameran pada Muktamar ke-33 NU, yang dihelat di Jombang, 1-5 Agustus 2015, silam.
Inilah selengkapnya Sholawat Asnawiyah:

Yaa rabbi shalli ‘ala rasuul # li muhammadin sirril ‘ulaa
Wal anbiyaa’ wal mursaliin # al ghurri khatman awwalaa
Yaa rabbi nawwir qalbanaa binuri quraanin jala
Waftah lanaa bidarsin aw #  qiraatin turattalaa
Warzuq bifahmil anbiyaa # lanaa wa ayya mantalaa
Tsabbit bihi iimananaa # dunya wa ukhran kamila
Aman aman aman aman # Indonesia Raya aman
Amin amain amin amin # Yaa rabbi rabbal ‘alamin
Amin amin amin amin # wayaa mujiibassailiin 


sumber: nu.or.id

Apa Makna Toleransi bagi Menteri Agama?


izzamedia.com – Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin menegaskan, bahwa sikap toleransi adalah menghormati perbedaan orang lain tanpa mengabaikan keyakinan pribadi yang dianut.
“Toleransi itu adalah kesiapan untuk menghormati mereka yang berbeda dengan kita, tetapi tidak berarti jadi mengabaikan keyakinan yang dianut,” ujar Lukman ketika ditemui usai menghadiri kagiatan ‘Zakat Awards 2015’ di Jakarta, Kamis (19/11/2015) malam.
Di tengah-tengah masyarakat yang majemuk, lanjut dia, tidak ada pilhan lain selain menegakkan toleransi, sebab itu adalah modal utama di tengah keberagaman.
Dengan memelihara sikap seperti itu, Menag yakin tindakan-tindakan intoleransi bisa dikurangi atau dihilangkan sama sekali.
Dalam kesempatan yang sama, Menag pun menanggapi pemberitaan yang mengabarkan penilaian sebuah LSM tentang kota paling toleran dan paling tidak toleran di Indonesia.
Lukman meyebut seharunya lembaga tersebut menyebut secara rinci parameter dan indikator penilaiannya tersebut. Walau begitu, dia meminta masyarakat, terutama yang dinyatakan tidak toleran, untuk dewasa dan berjiwa besar.
“Harus bisa mengambil sisi positif dari penilaian itu, anggap sebagai masukan bagi masyarakat dan pemerintah daerah setempat,” tutur dia.
Terkait ‘Zakat Awards 2015, kegiatan ini adalah yang pertama kali dilaksanakan oleh Kementerian Agama.
Menurut Direktur Pemberian Zakat Kementerian Agama Jaja Jaelani, ada dua kategori yang dinilai untuk Zakat Awards 2015, yaitu pertama, manajeman kelembagaan dan kedua, pengelolaan zakat.
Tingkat provinsi, tiga juara berturut-turut kategori pertama adalah Baitul Mal Provinsi Aceh, Baznas Sumatera Barat dan Baznas Jawa Timur.
Kategori kedua, ketiga terbaik berurutan adalah Baznas Banten, Baznas Nusa Tenggara Barat dan Baznas Kalimantan Timur.
Tingkat kabupaten/kota, tiga juara berturut-turut kategori pertama yaitu Baznas Kabupaten Sumedang, Baznas Kabupaten Kutai Timur dan Baitul Mal Kota Banda Aceh.
Kategori kedua, ketiga terbaik berurutan adalah Baznas Kabupaten Sragen, Baznas Kabupaten Lombok Timur dan Baznas Kabupaten Bukit Tinggi.


sumber: islaminesia.com

Selasa, 01 Desember 2015

10 Website Paling Sering Dikunjungi Rakyat Arab Saudi dan Palestina


izzamedia.com – Menurut data International Telecommunications Unions (ITU) pada tahun 2012, jumlah pengguna internet di Arab Saudi sebanyak 14.328.632 orang, sementara di Palestina sebanyak 1.779.915 orang. Angka itu membawa dua negara Islam itu berada di peringkat 35 dan 96 dunia kategori negara pengguna internet terbanyak.
Lalu situs apa saja yang paling sering dikunjungi oleh rakyat Arab Saudi dan Palestina? Muslimdaily, mengutip situs Aexa.com, merangkum 10 situs yang paling populer dikunjungi oleh netizen Arab Saudi dan Palestina per Kamis 26 November 2015 akses pukul 21.00 WIB.
Berikut daftarnya:
Arab Saudi:
#1 Google.com.sa (website pencari)
#2 Google.com (website pencari)
#3 Youtube.com (website video)
#4 Facebook.com (website medsos)
#5 Twitter.com (website medsos)
#6 Amazon.com (website jual beli online)
#7 Sabq.org (website berita)
#8 Live.com (website pencari)
#9 Vid.me (website video)
#10 Blogspot.Com (website berita)

Palestina
#1 Alwatanvoice.com (website berita)
#2 Facebook.com (website medsos)
#3 Google.ps (website pencari)
#4 Youtube.com (website medsos)
#5 Google.com (website pencari)
#6 Shasha.ps (website berita)
#7 Maannews.net (website berita)
#8 Shobiddak.com (website jual beli online)
#9 wattan.tv (website berita)
#10 palweather.ps (website info cuaca)
Itulah sepuluh website yang paling banyak dikunjungi oleh warga Saudi dan Palestina. Statistik ini dapat memberikan gambaran umum tentang perilaku dan minat warga Saudi dan Palestina berdasarkan website yang paling banyak dikunjungi.


Kemenag Dekatkan Siswa SD dengan Dunia Pesantren





Cirebon, izzamedia.com 
Pendidikan karakter dan moral merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran bagi siswa di sekolah, khususnya anak didik di jenjang Sekolah Dasar (SD). Untuk itu, Direktorat Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama RI bekerjasama dengan Lakpesdam NU menggelar pesantren kilat dengan melibatkan siswa SD se-Jawa Barat. 
Kegiatan bertajuk 'Mencetak Generasi Bangsa yang Berjiwa Aswaja' ini dimaksudkan untuk menginternalisasikan pendidikan karakter dan spiritual melalui aktivitas sehari-hari di pesantren.

Di antara materi yg diajarkan adalah penanaman nilai-nilai dan amaliyah Islam, mencintai tanah air, menghargai diri sendiri keluarga dan sesama, juga menghargai perbedaan, toleransi, serta berakhlakul karimah.

Peserta yang berjumlah 160 ini berasal dari SD yg tersebar di Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kuningan, Majalengka, dan Indramayu. Kegiatan ini brlangsung selama tiga hari, dimulai dari hari Selasa hingga Kamis, 1-3 Desember 2015 di Ponpes Assalafiyah, Bode Lor, Plumbon, Cirebon, Jawa Barat.


sumber: nu.or.id

Senin, 23 November 2015

Kisah Palsu tentang Muizzah, Kucing Nabi Muhammad

Anda pernah mendengar kisah tentang kucing peliharaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Dalam kisah yang banyak beredar di internet disebutkan:

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memiliki seekor kucing yang diberi nama Mueeza (Muizzah). Suatu saat, di kala Nabi hendak mengambil jubahnya, ditemuinya Mueeza sedang terlelap tidur dengan santai di atas jubahnya. Tak ingin mengganggu hewan kesayangannya itu, Nabi pun memotong belahan lengan yang ditiduri Mueeza dari jubahnya.

Ketika Nabi kembali ke rumah, Muezza terbangun dan merunduk sujud kepada majikannya. Sebagai balasan, Nabi menyatakan kasih sayangnya dengan mengelus lembut ke badan mungil kucing itu sebanyak 3 kali. Dalam aktivitas lain, setiap kali Nabi menerima tamu di rumahnya, nabi selalu menggendong mueeza dan di taruh dipahanya. Salah satu sifat Mueeza yang Nabi sukai ialah ia selalu mengeong ketika mendengar adzan, dan seolah-olah suaranya terdengar seperti mengikuti lantunan suara adzan. Kepada para sahabatnya, Nabi berpesan untuk menyayangi kucing peliharaan, layaknya menyanyangi keluarga sendiri.



Sungguh kisah yang sangat menarik, betapa seseorang setingkat Rasulullah pun menyayangi kucing demikian besarnya. Namun, kisah tentang kucing peliharaan Nabi ini tidak disebutkan sama sekali dalam kitab-kitab hadits, yang arttinya kisah ini adalah kisah palsu. Sehingga kaum Muslimin haram untuk menyebarkannya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4).

Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda,

مَنْ رَوَى عَنِّى حَدِيثًا وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبَيْنِ

“Siapa yang meriwayatkan dariku suatu hadits yang ia menduga bahwa itu dusta, maka dia adalah salah seorang dari dua pendusta (karena meriwayatkannya).” (HR. Muslim) / sumber

Gaduh Freeport Mata Najwa Melotot

Oleh Yons Achmad*
Pengamat Media

Saya menonton acara Mata Najwa edisi “Pejabat Pemburu Rente” (18/11/2015). Isinya tentang kasus Ketua DPR Setya Novanto yang diduga mencatut nama Jokowi-JK dengan meminta saham Freeport.

Saya tak ingin membahas kasus Freeport karena tentu saya tak punya kompetensi tentang itu. Lagi pula ini kasus “tingkat tinggi”.

Peneliti Indonesia Today, Ferdy Hasiman menulis di Kompas (20/11/15) dengan judul “Freeport dan Bisnis Orang Kuat”. Menurutnya, pada akhir 2010 saja Freeport menghasilkan penjualan 6,72 miliar dollar AS. Tambang ini juga menghasilkan laba kotor 4,17 miliar dollar AS. Cadangan tembaga mencapai 33,7 pound dan emas mencapai 33,7 juta ons, selain sekitar 230.000 ton ore milled perhari. Saking kayanya tambang ini, setiap orang ingin mendapatkan keuntungan dari Freeport.


Pemimpin redaksi Republika, Nasihin Masha menulis kolom di Republika “Freeport Akhirnya Gempa Juga” (20/11/15). Menurutnya, Kisah ini sebenarnya sudah didengar para pemimpin redaksi lebih dari sebulan lalu. Yang bercerita adalah Sudirman dan Ma’roef sendiri, dalam dua pertemuan terpisah. Namun mereka meminta off the record. Dalam wawancara dengan Kompas TV, Sudirman bercerita ihwal pencatutan nama presiden dan wapres tersebut. Memang dia tak menyebut nama. Namun kabar ini segera disambar banyak pihak. Sudirman diminta untuk membuka saja informasi tersebut. Di antara yang menyuarakan itu adalah Luhut B Panjaitan, seperti dimuat media massa. Sedangkan Adhie Massardi menyebut Sudirman bisa dikenai pasal ujaran kebencian. Adhie dikenal memiliki kedekatan dengan Rizal, demikian pula Luhut.

Rumit persoalannya. Itu sebabnya saya hanya ingin sekadar mencatat bagaimana media mengangkat kasus ini. Salah satunya lewat acara Mata Najwa di Metro TV itu.

Dalam acara tersebut, empat orang yang hadir. Dua diantaranya Fadli Zon dan Ruhut Sitompul. Anda sudah bisa bayangkan bagaimana kalau keduanya berdebat, pasti sangat gaduh. Tapi apa boleh buat, dari sisi media, inilah yang menarik perhatian publik untuk menontonnya. Tapi, saya sedikit mencatat, Najwa sangat tendensius dalam acara itu, dia begitu memberikan kesempatan Ruhut untuk bicara apa saja tapi kerap betul memotong pembicaraan Fadli Zon. Sebagai wartawan senior, saya kira, dalam hal ini Najwa perlu mendapatkan catatan buruk.

Dalam acara itu Fadli Zon menilai rekaman yang diduga Setya Novanto rapat dengan pimpinan Freeport beserta salah satu pengusaha tidak ada yang secara langsung mencatut nama presiden. Saat ingin menjelaskan lebih lanjut dipotong oleh Najwa “Jadi menurut Anda tidak ada yang tidak wajar dalam rekaman ini”. Dijawab oleh Fadli Zon “ Yang tidak wajar itu Sudirman Said yang justru membuat surat jaminan perpanjangan kontrak dengan Freeport” . “Bang Fadli Anda cepat sekali mengalihkan pembicaraan kesitu, malam ini temanya pejabat pemburu rente”, “Saya tahu frame Anda adalah ini” sahut Fadli Zon, ‘Saya tidak ada framing apapun” lanjut Najwa terlihat panik. Dan debatpun berlangsung antara keduanya, sampai dalam bahasa saya, Mata Najwa melotot. Najwa berusaha menstop Fadli Zon membahas surat Sudirman Said yang justru membuat surat kontrak perpanjangan Freeport tapi tak berhasil, Fadli Zon tetap terus berbicara tentang hal itu.

Dalam hal ini, terlepas dari kasus tersebut, sangat dominan apa yang dinamakan kuasa media. Benar bahwa Mata Najwa mengundang Fadli Zon ke acaranya secara khusus, tapi hal ini tak membuat Fadli Zon mau disetir oleh media, disetir oleh Najwa. Hasilnya, kali ini kuasa media kalah telak. Fadli Zon dengan gaya retorikanya yang khas, bicara blak-blakan, tak mau tunduk pada agenda media, disertai bukti surat perpanjangan kontrak menteri ESDM itu menjadikan acara yang barangkali dikemas untuk menghancurkan citra Setya Novanto itu gagal total. Saya melihatnya begitu.

Saya kira, kita sebagai konsumen media juga perlu melakukan hal yang sama. Melawan kuasa media yang digunakan bukan untuk kepentingan publik luas, tapi hanya sekadar digunakan sebagai misalnya corong penguasa atau melindungi kelompok-kelompok tertentu.

Kalau kita punya komitmen terhadap sebuah kasus agar terang benderang, tentu tak boleh ada sesuatu yang ditutup-tutupi, buka seterang-terangnya agar masyarakat tahu kejadian yang sebenarnya.[]

Sabtu, 21 November 2015

Pemkab Karanganyar Gelar Tahlil Akbar untuk Istri Pangeran Diponegoro

Karanganyar, izzamedia.com.  Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Karanganyar yang ke-98, pemerintah setempat menggelar tahlil akbar, Sabtu (21/11), di makam Nyi Ageng Karang, Desa Tegalgede, Kecamatan Karanganyar, Karanganyar, Jawa Tengah.  


Proses pembacaan tahlil dipimpin oleh Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Karanganyar Kiai Ahmad Hudaya. “Tahlil akbar ini merupakan tahlil pertama yang diagendakan oleh Pemda dalam peringatan Hari Jadi Karanganyar,” ungkap kiai Hudaya saat membuka tahlil akbar.

Ia menjelaskan, Nyi Ageng Karang merupakan istri dari Pangeran Diponegoro yang mempunyai nama kecil Raden Ayu Syulbiyah yang berjasa merintis terbukanya kawasan penduduk baru (babat alas) yang kini dikenal sebagai Kabupaten Karanganyar.

Tahlil akbar kali ini selain bertujuan untuk mengingat kematian sebagai peristiwa niscaya tiap manusia, juga sebagai upaya untuk mengenang serta meneladani perjuangan Nyi Ageng Karang dalam melawan penjajah hingga terbentuknya kabupaten Karanganyar, imbuhnya.

“Kami berharap kegiatan yang positif ini akan diagendakan lagi pada peringatan hari jadi Karanganyar di tahun-tahun yang akan datang, sehingga orang-orang yang sekarang tinggal di Karanganyar mengetahui sejarah asal usul tempat tinggalnya dan mengenal tokoh pendirinya,” pungkasnya. 


sumber: nu.or.id

Pesantren Istiqomah, Tempat Nyantri Mahasiswa Santri




Memasuki dunia perkuliahan terkadang mengharuskan seorang santri boyong dari pesantrennya dan menetap di tempat baru yang dekat dengan kampus tempat ia belajar sekarang. Di sinilah proses adaptasi dengan suasana baru kembali terjadi, dari urusan penampilan, tingkah laku, hingga cara berpikir.

Menyadari hal tersebut banyak alumni pesantren yang melanjutkan kuliah ke salah satu perguruan tinggi Islam di Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo memilih untuk mencari tempat mukim di pesantren terdekat.

Pondok Pesantren Istiqomah merupakan salah satu pondok yang terdekat dengan perguruan tinggi Islam yang memiliki ribuan mahasiswa tersebut. Keberadaan pesantren ini memang tidak pernah dipublikasikan, bahkan tidak ada papan nama pesantren di depannya. 

Pada awalnya hanya ada Madrasah Diniyyah saja, kemudian ada mahasiswa yang ikut ngajar di Madin tersebut dan tinggal di situ. Seiring dengan terus bertambahnya mahasiswa di perguruan tinggi Islam tersebut, ternyata semakin banyak pula alumni pesantren yang ingin ikut ngaji dan bermukim di situ. 

Para alumni pesantren yang ingin mondok lagi di Pesantren Istiqomah biasanya dilatarbelakangi rasa khawatir akan pengaruh lingkungan atau pergaulan yang kurang baik, dan keinginan untuk tetap berusaha menjaga kebiasaan baik yang sudah ditanam di pesantren dahulu.

Para santrinya pun berasal dari berbagai daerah di antaranya Tegal, Wonosobo, Banjarnegara, Rembang, Demak, Pati, Grobogan, Tanggerang, dan Soloraya. Muasal pesantren mereka pun beragam, antara lain Pesantren Al Anwar Rembang, Gontor, Al Asy’ariyah Kalibeber, Sirajul Tholibin Brabu, Al Manshur  Popongan, Maslakul Huda Kajen, Kacangan Boyolali, Mranggen Demak, Takmirul Islam Solo, Al Muayyad Solo, Anna’im Ajisoko Majenang, dan beberapa pesantren lainnya.

Kiai Ismail Thoyib selaku pengasuh pesantren yang juga jajaran syuriah PCNU Sukoharjo ini, selalu menekankan kepada calon santri yang hendak tinggal di Pesantren Istiqomah bahwa tempat ini bukan seperti kos, tetapi tempat mengaji. Sehingga niat awal harus ditata. Lebih dari sekadar tempat beristirahat setelah kuliah, Pesantren Istiqomah mesti menjadi tempat memperdalam ilmu agama.

Hingga tahun 2012, pesantren ini belum mempunyai asrama, sedangkan santri yang bermukim harus tinggal di rumah kiai di lantai dua. Terbatasnya tempat membuat sebagian alumni pesantren harus mengurungkan niatnya untuk ikut tinggal dipesantren ini. Dan ada pula yang rela mengantri, yaitu menunggu ada santri yang boyong dari Pesantren Istiqomah, baru kemudian dia masuk.

Memasuki tahun 2013 bersamaan telah berjalannya Pendidikan Anak Usia Dini di pesantren ini, para santri akhirnya dapat menempati asrama baru. Pesantren yang berfokus dalam tahfidz Al Qur’an ini telah meluluskan para alumni yang juga hafal Al-Qur’an. Selain fokus pada tahfidz Al-Qur’an, pesantren ini juga mengkaji beberapa kitab kuning yang diampu oleh para dosen dan jajaran pengurus NU setempat. 

Tahun ini tiga santri dari pesantren yang rutin menggelar sima’an Al Qur’an tiap minggu dan sima’an  Qiro’ah  sab’ah  se-Jawa ini,  mewakili IAIN Surakarta dalam MHQ (Musabaqoh Hifdzil Qur’an) Putra dan putri dan MTQ (Musabaqoh Tilawatil Qur’an) di Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset Mahasiswa (Pionir) di Palu, Sulawesi Tengah.

Sehingga dalam hal ini diharapkan keberadaan pesantren di dekat perguruan tinggi dapat dijadikan wadah bagi mahasiswa untuk mempersiapkan diri dalam menjalankan peran dan fungsi penting di dalam masyarakat, dan saat itu pula Pesantren dikatakan berhasil menjalankan tujuannya sebagai agen perubahan, yang mencetak mahasantri unggul dan berakhlakul karimah.


sumber: nu.or.id

Selasa, 17 November 2015

Hati-hati! Potensi Generasi Baru ISIS di Indonesia


izzamedia.com – Pengamat terorisme, Sidney Jones, mewanti-wanti anggota kelompok teroris ISIS asal Indonesia yang kembali dari medan perang Irak dan Suriah bisa melatih generasi baru di Indonesia.
“Kalau ada orang yang punya pengalaman di Suriah bisa kembali ke Indonesia, dia bisa jadi pemimpin dengan kredibilitas yang baru, dengan keterampilan yang lebih tinggi, dengan komitmen ideologi yang lebih mendalam,” katanya.
Pimpinan Institute for Policy Analysis of Conflict ini mengatakan warga Indonesia pendukung ISIS yang baru kembali dari Suriah dapat menghidupkan dan melatih sel-sel teroris yang masih ada di Indonesia.
Berikut petikan wawancaranya bersama reporter Rebecca Henschke:
Bagaimana Anda melihat reaksi sejumlah warga Indonesia yang mendukung aksi serangan di Paris?
Sulit untuk dibilang secara pasti. Kalau kita lihat jumlah orang yang berbai’at kepada ISIS pada bulan Juli tahun lalu, setelah khilafah diumumkan, mungkin sekitar 2000 orang dan pasti lebih besar daripada itu sekarang. Tapi jelas bahwa kalau dilihat secara keseluruhan hanya segelintir orang Indonesia (yang) mendukung, sebetulnya.
Dan yang berangkat ke Suriah?
Yang berangkat ke sana (Suriah), kalau totalnya mungkin sekitar 400; tapi itu terdiri dari sekarang ini 50 orang yang sudah meninggal dan sebagian besar setelah 1 Maret tahun ini – jadi banyak yang meninggal dalam bulan-bulan terakhir ini. Terus, ada sekitar 200–250 mujahidin yang betul-betul ikut pasukan ISIS. Tapi yang menarik untuk saya, ada sekitar 130 orang yang terdiri dari perempuan dan anak di bawah umur 15 tahun karena banyak yang datang ke sana bersama keluarga.
Itu datanya dari mana, dan apakah pelacakan di Indonesia cukup bagus?
Ini semacam kombinasi dari angka resmi dan data yang kami kumpulkan sendiri. Dan kalau kita lihat biodata, dengan nama dan data lain dari orang-orang itu, hanya sekitar 150-an orang fighter yang kita sudah tahu datanya secara lengkap. Dugaannya lebih dari itu, karena pasti tidak semua sudah teridentifikasi. Yang menarik, pada awalnya sebagian besar adalah anggota dari organisasi radikal yang sudah kami tahu – organisasi yang sudah ada, seperti Darul Islam, seperti JAT (Jamaah Anshorut Tauhid), seperti organisasi macam itu. Tetapi baru-baru ini, ada orang yang juga bergabung, yang tidak pernah ikut dengan organisasi radikal, yang tertarik oleh propaganda ISIS.
Kenapa mereka tertarik? Bukankah tidak ada diskriminasi terhadap orang-orang Islam di sini, tidak ada perang di Indonesia saat ini…
Kenapa mereka mau pergi ke Suriah bersama keluarga untuk berperang di situasi yang sangat tidak nyaman?

Ya, saya kira mungkin yang paling berhasil dari propaganda ISIS, ada ide bahwa ISIS adalah satu-satunya negara Islam di mana syariat Islam bisa diterapkan secara penuh dan itulah yang menarik banyak orang di Indonesia. Apalagi dengan video-video orang yang sangat senang… yang bisa hidup seperti biasa, seperti tidak ada perang sama sekali. Dan saya kira… apalagi dengan sekolah gratis, dengan rumah gratis, dan… saya kira itu bisa menjadi pull (daya tarik) yang cukup besar.
Tapi di samping itu ada juga ide bahwa menurut beberapa hadits, perang akhir zaman akan terjadi di Syam (Suriah), dan ini kesempatan untuk orang Indonesia dan sebetulnya orang di mana saja untuk ikut dalam perang yang terakhir di mana Islam akan menang. Dan itu juga bisa jadi satu faktor atau motivasi yang sangat kuat.
Indonesia juga sudah memiliki program deradikalisasi dan ada badan pemberantas terorisme (BNPT) di sini dan banyak dana mengalir ke sana, dan apakah mereka gagal untuk mengimbangi propaganda ini?
Ya sebetulnya program deradikalisasi atau kontra radikalisasi sampai saat ini tidak begitu efektif. Tapi saya kira sulit untuk cari negara manapun di dunia, di mana program deradikalisasi atau kontra-radikalisasi betul-betul efektif. Lihat saja Prancis, misalnya. Ada begitu banyak program yang dilakukan dan tetap ada orang yang mau bergabung. Dan di sini, saya kira, di Indonesia mungkin tugasnya lebih sulit lagi karena tidak ada konsensus sama sekali di antara tokoh agama dan tokoh politik tentang apa itu ekstremisme. Ada yang bilang bahwa, misalnya, Wahabi lebih bahaya daripada orang-orang yang bergabung dengan ISIS. Tanpa konsensus itu, akan mustahil mendapatkan satu program yang betul-betul efektif. Apalagi, saya kira, masih ada masalah besar dengan penjara di Indonesia karena banyak jaringan rekrutmen memang ada orangnya yang sudah ditahan di salah satu penjara di Indonesia, dan pengawasan terhadap penjara sangat lemah.
Apa yang terjadi di penjara?
Misalnya ada yang bisa berkomunikasi dengan teman-teman. Ada orang yang misalnya memegang nomor kontak orang di perbatasan Turki dan Suriah. Kalau mau nyebrang dari Turki ke Suriah harus dapat contact number itu. Dan kadang-kadang, justru napi terorisme atau temannya yang punya nomor kontak begitu.
Salah satu orang yang terkenal adalah Amanat Rachman, orang ideolog yang baru-baru ini menerjemahkan pernyataan ISIS bahwa mereka bertanggung jawab atas serangan di Paris. Dialah yang menerjemahkan dari Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia. Dan dia ditahan di salah satu penjara yang super maximum security, tapi tanpa kesulitan apapun dia bisa menyebarkan propaganda itu melalui handphone.
Dan kalau mereka balik ke Indonesia, ada kekhawatiran mereka akan membuat bom seperti Bali 2002, seperti yang dilakukan alumni Afghanistan?
Ya, saya juga khawatir bahwa resiko terorisme sekarang ini lebih tinggi daripada tahun-tahun sebelumnya. Sejak tahun 2009, waktu ada pemboman hotel di Jakarta, sebetulnya tidak ada pemboman yang betul-betul berhasil dan aksi terorisme lebih bersifat tembakan yang diarahkan kepada polisi. Tapi sekarang ini, saya kira, target juga bisa berubah. Bukan bahwa target terhadap polisi atau targeting domestic akan berhenti, tapi mungkin akan ditambah lagi dengan orang asing, seperti dulu dengan Nurdin M. Top.


sumber: islaminesia.com