Pages

Jumat, 21 Maret 2014

Jelang Nikah, Alyssa Soebandono Berjilbab


Alyssa Soebandono akan menikah dengan Dude Harlino, Sabtu (22/3) besuk. Sehari sebelum pernikahan yang akan digelar di Sasana Kriya Carani, Taman Mini Indonesia Indah, penampilan Alyssa Soebandono berubah. Artis kelahiran 25 Desember 1991 itu tampak telah mengenakan jilbab.

Saat pengajian di rumahnya, Jum’at (21/3) pagi, Alyssa Soebandono memakai jilbab hitam dan manset lengan panjang.

Sebelumnya, Februari lalu santer dikabarkan bahwa Alyssa Soebandono akan memakai jilbab setelah menikah. Meski ia tak menjawab langsung soal kabar itu, Dude Harlino yang ingin memiliki istri berjilbab mengisyaratkan bahwa saat itu Alyssa masih proses untuk memakai jilbab.

Sementara itu, kedua orangtua Alyssa, J.P Soebandono dan Angki W mengaku tidak tahu keputusan putrinya. Namun mereka tidak mempermasalahkan jika Alyssa berjilbab setelah menikah dengan Dude.

"Itu urusan dia dengan Dude. Saya tidak tahu. Hijab atau tidak, saya tidak mempersoalkannya," ujar sang ayah di rumahnya, Jl. Prapanca 1, No. 29, Jakarta Selatan, Jumat (21/3) seperti dikutip Kapanlagi. [AM/bersamadakwah/izzamedia]

Minggu, 09 Maret 2014

Karena Pembantaian Etnis, Warga Muslim Telah Habis di Kota Mbaiki, Afrika Tengah

Mbaiki. Pada Jumat (28/2/2014) yang lalu, milisi Kristen datang ke kota Mbaiki yang terletak di provinsi Lobaye, Afrika Tengah. Kedatangan mereka adalah untuk mencari warga Muslim terakhir yang masih hidup bernama Shalih Dido.

Menurut keterangan aktivis Amnesty International, Dido sudah melarikan diri dari rumahnya untuk mencari perlindungan di kantor polisi. Tapi milisi Kristen berhasil mengejarnya, dan akhirnya menyembelihnya di jalanan.

Pembersihan etnis saat ini benar-benar terjadi dalam pertikaian antar kelompok di Afrika Tengah. Shalih Dido adalah warga Muslim terakhir yang hidup di kota Mbaiki. Milisi Kristen telah tiga kali datang ke kota ini mengancam akan membunuh Dido, namun tidak ada warga lain yang berusaha menghalangi. Bahkan tetangga Dido sendiri yang turut membunuhnya. (msa/dakwatuna/alukah)

Ketika Aktivis Muhammadiyah Dicekoki "Jangan Pilih PKS"

AJAKAN ini sudah saya dengar dari tetangga, kerabat, teman kerja, hingga tukang ojek, sejak 2004 silam. Alhasil, saya pun akhirnya menjadi orang yang paling benci dengan PKS (Partai Keadilan Sejahtera).

Pada tahun itu, kesibukan kerja saya hanya berkutat antara Surabaya-Jakarta, dan sesekali ke Klaten -- menengok orangtua dan tiga kakak saya yang memang ada di kota tanah kelahiran saya itu.

Apalagi kalau sedang di Klaten, maka ajakan menghindari Partai yang logonya didominasi warna putih, hitam dan kuning ini semakin kencang. Bahkan nyaris tidak saya lihat bendera PKS selama saya di pedalaman Klaten.

Sepanjang perjalanan dan perkampungan, pada setiap menjelang Pemilu, yang banyak saya lihat adalah bendera berwarna merah, khas dengan kepala bantengnya.

Ajakan semacam itu, bertambah santer ketika di pojok-pojok kampung saya banyak anak-anak muda pengangguran nongkrong sambil main kartu. 

Merekalah  penyambung ajakan yang paling dahsyat yang menyebar luaskan ajakan tersebut kepada anak-anak muda lainnya. Anak muda yang tidak tahu menahu seperti saya, banyak yang ikut-ikutan. Siapa anak-anak muda ini?

Anak-anak muda ini adalah lulusan SD hingga SMA yang tidak bisa bekerja, dan menunggu "kode" dari saudara-saudaranya di Jakarta yang rata-rata bekerja secara turun temurun sebagai penjual es puter dan tukang bangunan.

Gerombolan ini sudah ada sejak saya kecil. Biasanya, setelah Idul Fitri atau setelah Lebaran, mereka akan diajak ke Jakarta untuk menjadi penjual es puter dan juga tukang bangunan seperti senior-senior mereka.  Yang sering terjadi, para pemuda ini jika pulang ke kampung saat menjelang Lebaran, bukannya menjadi teladan yang baik, namun sebagian dari mereka malah mengajarkan kepada para pengangguran di kampung untuk nongkrong dan main kartu.

Bahkan sebagian lagi tidak punya rasa malu melakukan aksi mabuk-mabukan semalaman di dekat masjid. Botol-botol miras bergelimpangan saat pagi harinya. Kegiatan ini sudah saya lihat sejak saya kecil.  Untungnya, kata orang kampung saya agak  berbeda dengan remaja kebanyakan. Sejak SD saya memang merasa  tidak nyaman berkelompok dengan mereka. Saya lebih suka angon wedhus (memelihara kambing) di ladang, atau ikut orangtua menggarap tanam-tanaman ladang serta mengurusi kebun kelapa serta menjualnya hasilnya di pasar kota. Bersama kakak-kakak serta Bapak, biasanya sehabis subuh kami bersama berangkat ke pasar kota untuk mengantar kelapa-kelapa dan hasil ladang setiap harinya mengggunakan sepeda ontel tua. Keluarga kami adalah petani kelapa.

Botol Miras Bergelimpangan di Dekat Masjid

Saya tidak tahu. Apakah mungkin ada kesengajaan dari orangtua kami untuk menghabiskan waktu-waktu bersama mereka agar tidak bertemu dengan teman-teman yang suka nongkrong di dekat masjid kampung tersebut.

Saya sendiri tahu adanya botol miras bergelimpangan di dekat masjid, juga karena aktifitas orangtua yang kebanyakan di masjid, maka mau tidak mau saya juga terbawa kebiasaannya dengan mengikutinya ke masjid setiap masuk waktu shalat.

Kebetulan kebun-kebun milik keluarga berada di sekitaran masjid sehingga saat panen kelapa dan istirahat dan shalat menuju masjid, selalu melewati tumpukan botol-botol yang sudah kosong isinya itu.
Saya tidak ingat, apakah orangtua memasukkan saya di SMP Muhammadiyah 1 setelah lulus SD, juga karena adanya rasa khawatir orangtua akan bertemunya saya dengan anak-anak kampung  tersebut.
Yang jelas setelah lulus SD, saya dimasukkan ke Sekolah Muhammadiyah favorit di Klaten, dan saya tidak berani bertanya. Saat saya kecil, memang masih banyak yang meyakini bahwa sekolah tinggi juga susah mencari pekerjaan.

Oleh karena itu,  kata mereka, daripada percuma sekolah biasanya para tetangga memilih "menyekolahkan" anak-anak mereka ke Jakarta sebagai penjual es puter dan tukang bangunan.  Jarang

yang sekolah tinggi. Kalaupun ada, kebanyakan hanya sampai SMP. Kalau beruntung, ada yang sekolah di SMA/STM/SMEA.

Dari ratusan keluarga, hanya beberapa yang mau menyekolahkan anaknya hingga ke Perguruan Tinggi. Salahsatunya keluarga saya.  Setelah SMP Muhammadiyah 1 Klaten, saya pun akhirnya meneruskan "ngaji" ke SMA Muhammadiyah 1 Klaten.

Di sekolah ini, selain menjadi Ketua OSIS, saya juga terpilih sebagai Ketua Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Klaten dalam Musyda (Musyawarah Daerah) IPM Klaten.
Sayangnya, saya harus meninggalkan kota kelahiran saya ini, karena harus meneruskan kuliah dan bekerja Surabaya-Jakarta lebih dari 20 tahun lamanya sampai saat ini.
Tahun 2006, saya bersama Ketua Umum PP Muhammadiyah dan belasan tokoh lain ikut membidani lahirnya pengajian terbatas berlokasi di samping rumah dinas Gubernur DKI, yang hanya diikuti oleh kalangan wartawan, artis, pengusaha, serta profesi unik lainnya misalnya pelawak, budayawan, dan lain sebagainya. Dari komunitas ini, tanpa diduga, saya akhirnya justru lebih banyak bertemu tokoh-tokoh yang ngefans PKS. Diam-diam, sebagian artis-artis yang ikut pengajian ternyata banyak ngefans ke PKS. Hebatnya, mereka tidak terganggu oleh propaganda anti PKS yang tetap ada di mana-mana. Termasuk dari saya.

Akan tetapi jika melihat kehidupan para artis yang ngefans ke PKS, saya akhirnya jadi penasaran, kenapa mereka mau saja aktif dan membantu aktifitas parpol itu, bahkan mau menjadi ikon beberapa programnya? Di beberapa televisi, saat itu memang banyak iklan sosial dari PKS, dan sebagian artis yang nongol di TV tersebut adalah kawan-kawan saya di pengajian. Meski begitu, saya tetap saja membenci.

Rancu, Sok Kerja dan Terlalu Percaya Diri

Partai ini menurut saya, banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang rancu, sok kerja, dan terlalu percaya diri. Boleh saya bilang, overacting, Bagaimana tidak? Di mana-mana mereka sok bangga mengenakan atribut PKS. Shalat pakai kaos PKS. Orang ngaji, kaos PKS. Orang gotong-royong, kaos PKS.
Bahkan sepakbola juga pakai kaos PKS. Anehnya, para PKS lovers itu tampaknya tidak risih mengenakan kaosnya meski tidak dalam masa kampanye. Kondisi itu jelas berbeda jauh misalnya, ketika saya tanyakan kepada warga yang katanya hanya mengenakan kaos pemberian Partai lain, sekedar kalau hanya mendekati kampanye saja. Kondisi itu jelas menambah kebencian saja. Saya pikir, PKS lovers ini terlalu fanatik.
"Sialnya", beberapa kali kegiatan sosial yang saya lakukan di pinggiran Jakarta serta beberapa kota kecil di daerah bersama komunitas, malah saya selalu bertemu dengan relawan PKS di lokasi. Setiap penyerahan bantuan, di sana banyak relawan PKS bersama warga.

Pemandangan ini jelas menjengkelkan. Karena saya pikir kegiatan sosial ini jadi mirip ditunggangi Parpol, maka kemudian saya mencoba mencari lokasi lain yang tidak ada relawan PKS-nya. Sayang, tak pernah menemukan. Dalam hati saya, kenapa semua tujuan kegiatan sosial saya, selalu bertemu dengan relawan PKS?

Bahkan para artis yang ikut kegiatan sosial juga heran, kenapa lokasi-lokasi yang saya sendiri memilihnya--dipilih oleh pembenci PKS, ternyata akhirnya juga di sanalah berkumpul para relawan PKS. Saya menyerah. Saya menyerah.  Pokoknya menyerahkan bantuan ya diserahkan saja. Gak peduli mau ada PKS atau tidak. Saya akui, nyaris saya tak bisa menghindari dari para relawan PKS yang bangga dengan kaos lengan panjangnya itu.

Benci Jadi Cinta

Tahun 2007, ketika banjir besar melanda Jakarta, titik kebencian saya kepada PKS mencapai titik kulminasinya. Maaf, lebih tepatnya, mulai surut. Saat itu, rumah keluarga kami di Jakarta Barat tenggelam. Lagi-lagi, relawan PKS memenuhi sudut perumahan. Perahu karet, perahu darurat, baju bekas dan bantuan makanan, banyak disuplai oleh mereka.

Yang membedakan dari yang lain, relawan-relawan ini begitu santun dan cepat dalam mengambil tindakan, dan tahu harus melakukan apa ketika melihat korban bergelantungan di teras-teras rumah, ketika korban ingin menyelamatkan harta bendanya. Persis apa yang dilakukan petugas penyelamat di film Titanic, para relawan itu berteriak-teriak ke semua rumah, memastikan apakah ada korban yang perlu ditolong...
Ajakan itu, malah membalik kebencian saya menjadi cinta. Betapa hebatnya... 

*) Mustofa B. Nahrawardaya, saat ini menjadi Caleg PKS DPR RI Jateng V

Judul Asli: Jangan Pilih PKS [sumber/suaranews]

Sabtu, 01 Maret 2014

Din Syamsuddin: Bagi Saya, Air Kemasan itu Haram

Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin mendesak pemerintah segera mencabut izin perusahaan air kemasan. Menurutnya, air seharusnya dikuasai negara dan tidak boleh diprivatisasi. Jika air diprivatisasi, dia menilai air kemasan yang dijual hukumnya haram.

Dikatakan Din, saat ini pihaknya tengah berjuang dalam menggugat Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.

Menurut dia, UU tersebut membuka peluang privatisasi dan komersialisasi air. Apalagi pengelolaan air tersebut dilakukan oleh perusahaan swasta asing.

Sebagai bentuk konkret imbas negatif komersialisasi air tersebut adalah banyaknya air kemasan berbagai merek. Sebab, air merupakan pangkal penciptaan dan sumber kehidupan.

"Air kemasan tidak boleh diserahkan ke swasta apalagi swasta asing. Air itu seharusnya dikuasai negara," ungkap Din Syamsuddin dalam Musyawarah Nasional Tarjih Muhammadiyah ke 28 di Palembang, Jumat (28/2), seperti dikutip Merdeka.com.

Ia mengungkapkan, jika air terus dikelola swasta untuk bisnis air kemasan, maka bukan tidak mungkin akan memberi dampak buruk bagi kehidupan manusia, seperti di bidang pertanian.

"Sudah berapa jutaan kubik air yang disedot swasta dari bumi kita ini. Jika dibiarkan, bagaimana nasib pertanian kita ke depan," kata dia.

Oleh karena itu, dirinya menantang pimpinan tarjih Muhammadiyah untuk menetapkan fatwa haram terhadap air kemasan. Hal ini memperkuat landasan yudisial review UU Sumber Daya Air itu.

"Saya tunggu apakah nanti difatwakan atau tidak. Kalau bagi saya, air kemasan itu haram," tandasnya. [Merdeka/Izzamedia]

Wakapolri Lengser Gara-Gara Jilbab Polwan?

Komjen Oegroseno sudah lengser dari jabatannya sebagai Wakapolri. Ia digantikan dengan Komjen Badrodin Haiti yang sebelumnya menjabat sebagai Kabaharkam Mabes Polri.

Isu bermunculan ketika Oegroseno lengser dari jabatannya, yakni permasalahan Telegram Rahasia (TR) tentang pengenaan jilbab bagi Polwan muslimah yang ingin memakainya. Ketika baru menjadi Kapolri, Jenderal Sutarman mengizinkan kepada Polwan yang ingin berjilbab, namun tidak lama kebijakan untuk jilbab polwan itu ditunda.

''Tidak ada hubungannya dengan jilbab Polwan,'' kata Komisioner Kompolnas, Edi Saputra Hasibuan, Jumat (28/2), dikutip dari Republika.

Edi melanjutkan, Oegroseno diganti karena memang sudah waktunya untuk pergantian. Pasalnya, pada bulan ini (Ferbuari), Oegroseno tepat berumur 58 tahun, dalam artian pensiun.

Menurut Edi, pengganti Oegroseno merupakan orang yang tepat. Kompolnas sendiri sepakat dengan Badrodin Haiti sebagai Wakapolri baru. Badrodin merupakan calon kuat Wakapolri, ini berkaitan dengan Oegroseno yang akan lengser karena pensiun.

Edi meyakini tidak ada pejabat tinggi Polri yang diperpanjang masa jabatannya oleh presiden. Semua pejabat tinggi akan pensiun jika waktunya sudah tiba. Bahkan, pergantian Wakapolri dinilai tidak akan berpengaruh dengan aktifitas pemilu 2014.

"Kalau Wakapolri yang diganti, tidak terlalu berpengaruh untuk pemilu," kata Edi. [ROL/izzamedia]